Berapa lama kita di kubur?

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

“Abi, berapa lama Kita dikubur?”

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Fathiya berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yg kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ku.

Fathiya dan Aku memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad : 19-10-1915: 20- 01-1965”.

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu.”
Fathiya melihat wajah ku, lalu menirukan tangan ku yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti aku. Ia mendengarkan saya berdo’a untuk Neneknya…

“Abi, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya.”
Akupun mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya bi..”
Kata Fathiya berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun … “

Fathiya memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini :19-02-1882: 30-01-1910”

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Bi”. Jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi akupun mengangguk. Tanganku terangkat mengelus kepala anak keduaku.

“Memangnya kenapa nak ?” kata ku menatap teduh mata ku.

“Hmmm, Abi kan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan jika kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka.” kata Fathiya sambil meminta persetujuan Ku. “Iya kan Bi.?”

Akupun tersenyum.
“Iya…. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong Bi di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur …. Ya nggak Bi?” mata Fathiya berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ku tentang pendapatnya.

Akupun tersenyum, sambil ku termenung galau…. “Iya nak, kamu pintar,” kata saya pendek.

Image

Pulang dari pemakaman, Akupun gelisah Di atas sajadah, memikirkan apa yang dikatakan anakku…. 42 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa.. atau bahagia dikubur.. Lalu Iama menunduk… Meneteskan air mata…

Kalau meninggal.. Lalu banyak dosanya…lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Aku akan disiksa 1000 tahun?
InnalillaahiWainna ilaihi rooji’un ….
Air mata ku semakin banyak menetes, sanggupkah Aku selama itu disiksa?
Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 lagi? Kalau 3000 tahun lagi?
Selama itu Aku akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?

Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi Aku sudah tak tahan…

Ya Allah…
Aku pun semakin menunduk, tanganku terangkat, keatas bahuku naik turun tak teratur…air mataku semakin membanjiri jenggotku.

Allahumma as aluka khusnul khootimah..
berulang Kali ku baca DOA itu hingga suaraku serak …
Dan akupun berhenti sejenak ketika terdengar batuk Fathiya.

Ku hampiri Fathiya yang tertidur di atas dipan Bambu. Aku betulkan selimutnya. Fathiya terus tertidur…. tanpa tahu, betapa Aku sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan… Dan apa yang akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s